BREAKING NEWS

Bonang, Alat Musik Gamelan Peninggalan Kerajaan Jawa yang Kini Mendunia

Bonang, alat musik tradisional dalam seperangkat gamelan Jawa yang digunakan pada pertunjukan karawitan.

RagamJatim.com – Indonesia memiliki kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun, salah satunya adalah gamelan. Ansambel musik tradisional ini bukan hanya menjadi identitas budaya Jawa, tetapi juga telah dikenal hingga berbagai negara sebagai salah satu warisan seni musik paling berharga di Nusantara.

Di dalam satu perangkat gamelan, terdapat berbagai jenis instrumen dengan fungsi yang berbeda-beda. Salah satu yang memiliki peran penting adalah bonang, alat musik berpencu yang menjadi pembawa melodi sekaligus penanda arah permainan dalam seni karawitan.

Keberadaan bonang tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan peradaban Jawa, mulai dari masa kerajaan kuno hingga era modern.

Asal Usul Gamelan dalam Sejarah dan Mitologi Jawa

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, gamelan pertama kali diciptakan oleh Sang Hyang Guru (Batara Guru) sekitar tahun 167 Saka atau abad ke-3 Masehi. Sosok tersebut dipercaya bersemayam di Gunung Mahendra yang kini dikaitkan dengan kawasan Gunung Lawu.

Menurut kisah tersebut, awalnya Sang Hyang Guru menciptakan sebuah gong sebagai alat pemanggil para dewa. Seiring berkembangnya kebutuhan menyampaikan pesan yang lebih kompleks, berbagai instrumen lain kemudian ditambahkan hingga terbentuk seperangkat gamelan lengkap.

Meski demikian, dari sudut pandang sejarah dan arkeologi, gamelan diyakini berkembang secara bertahap, bukan diciptakan sekaligus.

Bukti visual tertua mengenai alat musik gamelan dapat ditemukan pada relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang menggambarkan berbagai instrumen seperti kendang, suling, gambang, kecapi, hingga alat musik logam yang menjadi cikal bakal gamelan modern.

Perkembangan Gamelan pada Masa Kerajaan Jawa

Memasuki abad ke-12, istilah gangsa, sebutan halus untuk gamelan, mulai muncul dalam berbagai naskah kuno, salah satunya Kitab Smaradahana.

Pada periode tersebut diperkirakan mulai dibuat perangkat gamelan tertua yang masih dilestarikan hingga sekarang, seperti Gamelan Munggang dan Gamelan Kodok Ngorek.

Perkembangan terbesar terjadi pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 hingga ke-15. Saat itu susunan gamelan mulai disempurnakan hingga menyerupai perangkat gamelan Jawa yang dikenal saat ini.

Dalam satu perangkat gamelan ageng, instrumen dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan fungsinya, yaitu:

Pamurba Yrama, bertugas mengatur irama.
Pamurba Lagu (Ricikan Panerus), membawa dan mengembangkan melodi.
Pamangku Yrama, menjaga struktur atau kerangka dasar gending.

Bonang termasuk dalam kelompok Pamurba Lagu, sehingga memiliki peran penting dalam membentuk alur melodi sebuah komposisi karawitan.

Mengenal Bonang, Instrumen Penting dalam Gamelan

Bonang merupakan alat musik pukul yang terdiri atas sejumlah gong kecil berpencu (pencon) yang disusun dalam dua baris di atas bingkai kayu yang disebut rancak.

Instrumen ini dimainkan menggunakan dua alat pemukul khusus sehingga mampu menghasilkan rangkaian nada yang khas.

Dalam satu perangkat gamelan, bonang terdiri atas tiga jenis.

1. Bonang Panembung

Bonang Panembung memiliki ukuran paling besar dengan nada paling rendah. Instrumen ini digunakan untuk memperkuat warna nada dasar dalam permainan gamelan.

2. Bonang Barung

Bonang Barung berukuran sedang dan menjadi instrumen utama dalam kelompok bonang.

Fungsinya sangat penting karena bertugas memimpin alur melodi sekaligus memberikan petunjuk kepada pemain gamelan lainnya.

3. Bonang Penerus

Bonang Penerus merupakan jenis yang berukuran paling kecil dengan nada paling tinggi.

Instrumen ini dimainkan lebih cepat dibandingkan Bonang Barung dan menghasilkan pola-pola hiasan melodi (imbal atau cengkok) yang membuat permainan gamelan terdengar lebih dinamis.

Sejarah Bonang dari Masa Kerajaan hingga Penyebaran Islam

Sejumlah ahli menilai bonang berkembang dari tradisi Kebudayaan Perunggu, ketika masyarakat Nusantara mulai mengenal teknik pembuatan alat musik logam.

Perkembangannya semakin pesat pada masa kerajaan-kerajaan Jawa Kuno hingga Majapahit. Berbagai relief candi menunjukkan keberadaan instrumen logam berpencu yang menjadi cikal bakal bonang modern.

Bentuk bonang seperti yang dikenal saat ini diperkirakan mengalami penyempurnaan pada abad ke-16 hingga ke-17, ketika Kesultanan Mataram Islam membakukan sistem nada slendro dan pelog, serta menyempurnakan struktur permainan gending.

Pada masa tersebut, bonang tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam upacara kerajaan, ritual keagamaan, hingga pertunjukan wayang kulit.

Dalam tradisi karawitan, bonang berperan sebagai pembuka atau muka gending, sehingga para pengrawit dapat mengetahui arah lagu yang akan dimainkan.

Bonang sebagai Media Dakwah Sunan Bonang

Dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, bonang juga memiliki peran yang cukup penting.

Salah satu anggota Wali Songo, Sunan Bonang, memanfaatkan gamelan, termasuk bonang, sebagai media dakwah.

Melalui gending-gending bernuansa Islami, beliau mengajak masyarakat berkumpul sambil menyampaikan ajaran agama dengan pendekatan budaya yang mudah diterima masyarakat Jawa saat itu.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh akulturasi budaya dan agama yang masih dikenang hingga kini.

Bonang Kini Mendunia

Perkembangan zaman membuat bonang tidak lagi hanya dimainkan dalam lingkungan keraton maupun pertunjukan tradisional.

Saat ini, banyak komposer menggabungkan suara bonang dengan berbagai instrumen modern seperti biola, cello, piano, hingga synthesizer untuk menghasilkan karya musik kontemporer bernuansa etnik.

Selain itu, seperangkat gamelan lengkap, termasuk bonang, juga dipelajari di berbagai perguruan tinggi luar negeri, khususnya di Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, dan sejumlah negara Eropa sebagai bagian dari kajian etnomusikologi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bonang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jawa, tetapi juga telah berkembang menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang mendapat apresiasi di tingkat internasasional. (red)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar